Senin, 22 April 2013

Zat Berbahaya Pada Makanan

BAHAN KIMIA BERBAHAYA DI DALAM MAKANAN MSG (Monosodium Glutamat)
Dari beberapa contoh bahan kimia beracun yang sehari-hari dipergunakan sebagai zat tambahan dalam makanan dan dipakai secara meluas di kalangan masyarakat, maka bahaya dalam jangka panjang sudah dapat perkirakan. Untuk mencegah hal ini, pemerintah harus sudah berani melakukan tindakan preventif mulai sekarang dan jangan menunggu-nunggu kalau sudah ada korban.
Dampak negatif yang bisa terjadi adalah dapat memicu kanker, kelainan genetik, cacat bawaan ketika lahir, dan lain-lain. Tidak ada cara untuk menghindar 100% dari bahan-bahan kimia itu dalam kehidupan kita sehari-hari, yang perlu kita lakukan adalah meminimalkan penggunaannya sehingga tidak melewati ambang batas yang disarankan. Karena selain banyak tersedia di pasaran, bahan-bahan tersebut juga harganya yang relatif sangat murah. Zat makanan yang biasanya banyak digunakan untuk sehari – hari adalah MSG (Monosodium Glutamat)
Monosodium glutamat (MSG) atau vetsin adalah penyedap masakan dan sangat populer di kalangan para ibu rumahtangga, warung nasi dan rumah makan. Hampir setiap jenis makanan masa kini dari mulai camilan untuk anak-anak seperti chiki dan sejenisnya, mie bakso, masakan cina sampai makanan tradisional sayur asam, lodeh dan bahkan sebagian masakan padang sudah dibubuhi MSG atau vetsin. Pada hewaan percobaan, MSG dapat menyebabkan degenerasi dan nekrosi sel-sel neuron, degenerasi dan nekrosis sel-sel syaraf lapisan dalam retina, menyebabkan mutasi sel, mengakibatkan kanker kolon dan hati, kanker ginjal, kanker otak dan merusak jaringan lemak.
MSG pertama sekali ditemukan oleh Ritthausen (1866), dan berhasil diisolasi dari rumput laut (genus Laminaria) oleh Ikeda dan disebut ‘konbu’di Jepang (Halpern, 2002). MSG memiliki cita rasa yang khas disebut umami, suatu elemen rasa yang dijumpai pada makanan alamiah seperti kaldu. Karateristik umami berbeda dengan empat rasa yang lain pahit, manis, asin, dan asam, berupa sedap, lezat atau enak, (Loliger, 2000), rasa umami ini bertahan lamanya dan didalamnya terdapat komponen L-glutamate (suatu asam amino non esensial) dan 5’-ribonucleotide (Yamaguchi, 2000). MSG banyak digunakan pada masakan China dan Asia Tenggara yang dikenal dengan nama Ajinomoto, Sasa, Vetsin, Miwon atau Weichaun (Geha, 2000).

Sumber-sumber MSG
Asam glutamat digolongkan pada asam amino non essensial karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat. Glutamat dibuat dalam manusia dan memainkan peran esensial dalam metabolisme. Hampir dua kilogram glutamate terdapat secara alami dalam otak, ginjal, hati dan pada jaringan lain pada tubuh manusia. Disamping itu glutamat terdapat dalam jumlah besar di air susu ibu, sekitar sepuluh kali lipat yang terdapat dalam susu sapi. Glutamat dalam bentuk alami didapat dari makanan seperti tomat, keju, susu, daging, kacang kapri, jamur dan kecap yang merupakan hasil fermentasi (FDA, 1995). Tubuh manusia terdiri dari 14-17 % protein dan seperlimanya merupakan asam glutamat dalam protein tubuhnya (Sardjono, 1989). Monosodium glutamat juga dapat dibuat melalui proses fermentasi dari tetes gula (molases) oleh bakteri Brevibacterium lactofermentum. Asam glutamate kemudian ditambah soda (Natrium karbonat) sehingga terbentuk monosodium glutamat (MSG), kemudian dimurnikan dan dikristalisasi, sehingga merupakan serbuk kristal murni, yang siap dijual di pasar dan merupakan makanan yang umum (Prawirohardjono,2000)
Sifat Kimia MSG
Asam glutamate digolongkan pada asam amino non essensial, karena tubuh manusia sendiri dapat menghasilkan asam glutamat. Glutamat dibuat dalam tubuh manusia dan memainkan peran esensial dalam metabolisme. MSG mempunyai rumus kimia C5H8O4NNaH2O (Gambar 2.1) terdiri atas Natrium sebanyak 12%, glutamate 78% dan air 10%. MSG bersifat larut dalam air (Geha, 2000), glutamat yang terdapat dalam MSG merupakan suatu asam amino yang banyak dijumpai pada beberapa makanan, kandungan glutamate 20% dari total asam amino pada beberapa makanan baik bebas maupun terikat dengan peptida atau protein (Garattini, 2000).
Gambar
Gambar 2.1 Struktur Kimia MSG (Loliger, 2000)
Efek Biologis MSG
Badan Pengawas Makanan dan Obat-obatan (Food and Drugs Administration, FDA) Amerika Serikat mengklasifikasikan MSG sebagai bahan yang aman untuk dikonsumsi, seperti bahan makanan lainnya, misalnya garam, cuka, dan pengembang kue (FDA, 1995). Sejalan dengan itu, hasil penelitian di Indonesia juga menunjukkan bawa konsumsi MSG sampai dengan 1,5-3,0 g pr hari tidak menimbulkan efek apapun terhadap manusia (Prawihardjono ,2000). Namun demikian, berbagai penelitian juga melaporkan adanya efek yang timbul setelah mengkonsumsi MSG. Misalnya telah dilaporkan adanya MSG- Symptom Complex yang timbul setelah satu jam mengkonsumsi MSG sebesar 3 g melalui makanan, terutama jika dikonsumsi dalam kondisi perut kosong. MSG Symptom complex ditandai dengan rasa terbakar dan kebas di belakang leher, lengan, dan dada, hangat di wajah dan pundak, rasa nyeri di dada, sakit kepala, mual, denyut jantung meningkat, bronchospasme (FDA, 1995).
Selain itu Olney (1969), pemberian MSG secara suntikan subkutan pada mencit baru lahir dapat menimbulkan terjadinya nekrosis neuron akut pada otak termasuk hipotalamus yang ketika dewasa akan mengalami hambatan perkembangan tulang rangka, obesitas,dan sterilitas pada betina.
Penelitian terhadap tikus yang pada makanan standarnya ditambah MSG 100 g/kg berat badan/ hari, setelah 45 hari memperlihatkan adanya disfungsi metabolic berupa peningkatan kadar glukosa darah, triasilgliserol, insulin, dan leptin. Keadaan tersebut disebabkan terjadinya stress oksidatif berupa peningkatan kadar hiperoksidasi lipid dan penurunan bahan-bahan antioksidan, tetapi hal tersebut dapat dicegah dengan penambahan serat pada makanan (Diniz, 2005). Begitu juga pemberian MSG 4 mg/ g berat badan secara subkutan selama 10 hari pertama kelahiran kemudian dilakukan pemeriksaan pada hari ke- 25 peroksidasi lipid meningkat secara bermakna (Babu, 1994). Keadaan stress oksidatif juga dijumpai setelah pemberian MSG 4 mg/ g berat badan secara intraperitoneal memperlihatkan peningkatan pembentukan MDA di hati, ginjal, dan otak tikus.
Pemberian makanan yang mengandung vitamin C, E dan quercetin secara bersamaan akan mengurangi kadar MDA yang muncul akibat pemberian MSG tersebut (Farombi dan Onyema, 2006).
Penelitian terhadap tikus Sprague-Dawley baru lahir yang mengalami lesi nukleus arkuatus setelah penyuntikan MSG 4 g/kg berat badan secara subkutan pada hari 1,3, 5, 7, dan 9 setelah 10 minggu memperlihatkan adanya plak aterosklerotik pada permukaan dinding aorta, degenerasi endothelium. Inti endothelium mengalami edema, adanya vesikel dengan berbagai ukuran pada jaringan subendotelium serta sel otot polos mengalami migrasi dari tunika medika ke tunika intima melalui interna elastika yang robek. Juga disertai peningkatan kadar kolesterol total, low density lipoprotein (LDL), kadar nitric oxide berkurang, sedangkan kadar high density lipoprotein tidak berubah (Xiao-hong, 2007).
Efek MSG terhadap Fungsi Reproduksi
Federation of American for Experimental (FASEB) juga melaporkan adanya dua kelompok orang yang cenderung mengalami kompleks gejala MSG, kelompok pertama orang yang tidak toleran terhadap konsumsi MSG dalam jumlah besar dan kelompok kedua orang dengan penyakit asma tidak terkontrol, orang-orang ini cenderung mengalami kompleks gejala MSG, perburukan gejala asma yang bersifat sementara setelah mengkonsumsi MSG dengan dosis antara 0,5 g sampai 2,5 g (FDA, 1995).
Penelitian terhadap pasien infertil dengan keadaan oligosperma, motilitas sperma rendah dan jumlah sperma bentuk normal yang rendah, setelah diberikan suplemen vitamin C 1000 mg per hari selama 2 bulan, memperlihatkan peningkatan jumlah sperma, motilitas sperma dan jumlah sperma yang morfologinya normal (Akmal, 2006).
Pada mencit baru lahir (usia 2 sampai 11 hari) yang disuntikkan MSG 4 mg/g berat badan secara subkutan menimbulkan terjadinya disfungsi sistem reproduksi jantan dan betina yang manifestasinya akan muncul pada usia dewasa berupa pada mencit betina menimbulkan kehamilan lebih sedikit dan ovarium lebih kecil dan pada mencit jantan menimbulkan penurunan berat testis (Pizzi, 1977) dan (Miskowiak, 1993).
Pemberian MSG 4 mg/g berat badan secara intraperitoneal pada tikus yang baru lahir selama 2 hari sampai usia 10 hari dan diperiksa pada usia pra pubertas dan dewasa, memperlihatkan pada usia pra pubertas terjadi hiperleptinemia, hiperadiposit dann peningkatan kadar kortikosteron, penurunan berat testis, jumlah sel sertoli dan sel leydig per testis, serta penurunan kadar Luteinizing Hormone (LH), Folicle Stimulating Hormone (FSH), Thyroid (T), dan Free T4 (FT4). Sementara pada saat dewasa memperlihatkan hiperleptinemia yang lebih tinggi dan penurunan kadar FSH dan LH lebih rendah tetapi kadar T dan FT4 normal, dan tidak tampak perubahan struktur testis (Miskowiak, 1993).
Penelitian selanjutnya memperlihatkan bahwa salah satu mekanisme yang mungkin berperan dalm timbulnya efek toksik akibat pemberian MSG pada sistem reproduksi jantan munkin diperantarai melalui efeknya dalam menurunkan kadar askorbat. Penelitian tersebut dilakukan terhadap tikus Winstar jantan dewasa yang disuntikkan MSG dengan dosis 4 g/kg berat secara intraperitoneal badan selama 15 hari (kelompok jangka pendek) dan selama 30 hari (kelompok jangka panjang), memperlihatkan berkurangnya berat testis, jumlah sperma, kadar asam askorbat dalam testis dan meningkatnya jumlah sperma yang bentuknya abnormal. Pada kelompok jangka pendek memperlihatkan penurunan jumlah sperma bentuknya normal dan peningkatan jumlah sperma dengan ekor abnormal secara bermakna ketika dibandingkan dengan kelompok jangka panjang. Kadar asam askorbat dalam testis menurun secara bermakna pada kelompok jangka pendek ketika dibandingkan dengan kelompok jangka panjang (Nayanatara, 2008). Penelitian lanjutan yang dilakukan Vinodini (2008) memperlihatkan bahwa MSG dengan dosis 4g/kg berat badan secara intraperitoneal, selain menimbulkan terjadinya penurunan berat testis dan kadar asam askorbat di dalam testis juga memperlihatkan peningkatan kadar peroksidasi lipid dalam testis dan pada kelompok jangka pendek memperlihatkan kerusakan oksidatif yang lebih besar bila dibandingkan dengan kelompok jangka panjang.

Sumber artikel yang terkait :

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar